$type=slider$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=5$show=home

Presiden Turki Erdogan Dalam Masalah Besar Uni Eropa Sudah Rapat, Imbas Seruan Boikot Produk Prancis

INDONESIAKININEWS.COM -  Seruan boikot produk prancis / boikot produk perancis terus menggema, kenapa Presiden Turki Erdogan Dalam Masalah B...



INDONESIAKININEWS.COM - Seruan boikot produk prancis / boikot produk perancis terus menggema, kenapa Presiden Turki Erdogan Dalam Masalah Besar usai Uni Eropa adakan Rapat!

Seruan Boikot Produk Prancis menggema di Timur Tengah menyusul pernyataan kontroversial

Sesama Negara Eropa, Turki melalui Presiden Erdogan termasuk Negara yang mengumandangkan seruan Boikot Produk Prancis.

Kini, Erdogan dalam masalah besar!

Uni Eropa memperingatkan Erdogan untuk menghentikan provokasi internasionalnya terhadap sesama Negara Eropa.

Bagaimana jika Erdogan menolak seruan Uni Eropa itu?

Negara-negara anggota Uni Eropa setuju untuk memantau sikap Turki di kancah internasional hingga Desember mendatang.

Pada pertemuan awal bulan ini, Uni Eropa mengancam akan menjatuhkan sanksi apabila Erdogan tidak berhenti melakukan 'provokasi', menurut sebuah pernyataan dewan Uni Eropa.

Sementara itu, Juru Bicara Uni Eropa Peter Stano mengatakan dirinya tidak akan menunda pertemuan mendesak para pejabat Uni Eropa menyusul komentar Erdogan.

"Kami jelas mengharapkan adanya perubahan sikap dan pernyataan terbuka dari Turki," kata Stano dalam konferensi pers.

Stano menyebut akan sering mengadakan diskusi "untuk melihat apakah kami akan terus menunggu atau mengambil langkah selanjutnya dengan lebih cepat", dilansir France24, Selasa (27/10/2020).

Dukungan Negara Uni Eropa untuk Prancis

Para pemimpin negara dan pejabat Uni Eropa menyatakan dukungannya untuk Prancis pasca-seruan boikot dari Turki dan sejumlah negara-negara di Timur Tengah.

Mereka berkumpul di Prancis, Senin (26/10) menyatakan prihatin atas apa yang terjadi dan mengungkapkan solidaritasnya.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan negaranya mendukung Prancis atas nama "Kebebasan bicara dan jalan untuk melawan ekstrimisme dan radikalisme".

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menyatakan bahwa penghinaan Erdogan terhadap Macron adalah 'titik terendah baru (dalam hubungan bilateral'.

Maas mengaku negaranya akan terus "berdiri dalam solidaritas dengan teman-teman Prancis".

Selanjutnya, dukungan datang dari Italia saat PM Giuseppe Conte menyayangkan ucapan Erdogan terhadap Presiden Macron.

"Kata-kata Presiden Erdogan kepada Presiden Macron tak dapat diterima," tulisnya di Twitter.

Presiden Yunani Katerina Sakellaropoulou menyebut retorika Erdogan justru "memicu fanatisme agama dan intoleransi atas nama konflik kebudayaan, dan ini tidak dapat ditoleransi".

Ribut Turki-Prancis

Seperti diketahui, Erdogan menilai Macron memiliki agenda 'anti-Islam' dibalik pernyataan dukungannya untuk seorang guru di Prancis yang mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad.

Guru ini kemudian tewas dipenggal oleh seorang pria yang marah terhadapnya.

Erdogan juga sempat mengatakan bahwa Macron perlu melakukan 'tes kesehatan mental' atas pernyataan mengenai ketidaksepakatan Macron atas Islam Radikal.

Erdogan turut menyerukan pemboikotan produk-produk Prancis yang diikuti sejumlah negara-negara di Timur Tengah.

Inilah yang kemudian diprotes para petinggi negara-negara Eropa.

Sebagai informasi, Turki dan Prancis sama-sama merupakan anggota aliansi militer NATO, tetapi sering berselisih mengenai isu-isu sensitif, termasuk Suriah dan Libya, yuridiksi maritim wilayah timur Mediterania dan konflik di Nagorno-Karabakh.

Prancis merupakan sumber impor terbesar ke-10 Turki dan peringkat ke-7 pasar ekspor Turki.

Keduanya sering terlibat perselisihan atas isu-isu internasional.

Berawal dari Penghinaan Umat Islam dan Nabi Muhammad SAW

Gelombang besar negara-negara Arab mulai massif serukan boikot produk Prancis. Yap, negara-negara mayoritas Muslim.

Hal itu merupakan efek Presiden Perancis, Emmanuel Macron menyebut gambar Nabi Muhammad sebagai kartun bukan hal yang salah.

Dikutip dari CNN, Macron menyatakan demikian pekan lalu sebagai penghormatan kepada guru sekolah menengah yang dibunuh. 

Paty dihabisi setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas dan menganggapnya sebagai kebebasan berekspresi.

Presiden Macron mengatakan Prancis tidak akan 'menyerah' dengan kasus kartun Nabi Muhammad dan mengaku akan menindak Islamisme ekstrim di negaranya.

Hal ini memicu demonstrasi dan boikot produk Prancis di sejumlah negara mayoritas Muslim.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Menteri Pendidikan Prancis Jean-Michel Blanquer, berbicara di depan sebuah sekolah menengah di Conflans Saint-Honorine, 30 km barat laut Paris, pada 16 Oktober 2020, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang karena membawa karikatur Nabi Muhammad SAW.

 (ABDULMONAM EASSA / POOL / AFP)
"Saya menyerukan kepada orang-orang, jangan mendekati barang-barang Prancis, jangan membelinya," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin (26/10/2020) saat berpidato di Ankara.

"Para pemimpin Eropa harus mengatakan 'berhenti' untuk Macron dan kampanye kebenciannya," tambahnya.

Di Kuwait, jaringan supermarket swasta mengatakan bahwa lebih dari 50 gerainya berencana memboikot produk Pracis.

Kampanye boikot ini juga sedang memanas di Yordania.

Di mana sejumlah toko grosir membuat tulisan pernyataan bahwa mereka tidak menjual produk asal Prancis.

Berbagai toko di Qatar melakukan hal yang sama, salah satunya jaringan supermarket Al Meera yang punya lebih dari 50 cabang di negara tersebut.

Universitas Qatar juga mengatakan bahwa mereka menunda Pekan Budaya Prancis tanpa batas waktu.

Kasus pembunuhan Paty telah menghidupkan kembali ketegangan seputar sekularisme, Islamisme, dan Islamofobia di Prancis.

Bahkan akibat pernyataan kontroversial Macron, hubungan diplomatik dan ekonomi terhadap negara-negara Arab mungkin akan turut terganggu juga.

Kementerian di Prancis mengatakan reaksi pemboikotan mendistorsi pernyataan Presiden Macron untuk tujuan politik.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel saat menghadiri KTT G20 di Osaka, Jepang, 29 Juni 2019. (AFP)
Pihaknya menyatakan bahwa:

"Posisi yang dipertahankan oleh Prancis (adalah) mendukung kebebasan hati nurani, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan penolakan panggilan untuk kebencian."

Pernyataan juga menjelaskan soal kalimat Macron terkait memerangi Islamisme radikal.

"(Kebijakan Macron ditujukan untuk) memerangi Islamisme radikal dan melakukannya dengan Muslim Prancis, yang merupakan bagian integral dari masyarakat, sejarah, dan Republik Prancis," bunyi pernyataan itu.

"Kami tidak akan menyerah," cuit Macron Minggu lalu.

"Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian. Kami tidak menerima ujaran kebencian dan mempertahankan perdebatan yang masuk akal."

"Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal," tambahnya.

Kematian Paty memicu tindakan keras pada keamanan di Prancis, di mana para pejabat melakukan ujaran kebencian di media sosial dan organisasi yang kemungkinan terkait dengan Islamisme.

Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya yang bersumber dari majalah satir Charlie Hebdo, dan menilainya sebagai tanggapan atas serangan teror pada media ini 2015 silam yang menewaskan 12 orang.

Macron dengan keras membela hak untuk menampilkan kartun semacam itu di Prancis pada acara peringatan Paty.

Prancis akan terus "debat yang penuh kasih, argumen yang masuk akal, kami akan menyukai sains, dan kontroversi-kontroversi itu," kata orang nomor satu di Prancis itu.

"Kami tidak akan melepaskan karikatur, gambar, bahkan jika orang lain mundur," tambahnya.

Yordania, Pakistan, Mesir, dan Iran termasuk di antara negara-negara Islam yang mengutuk Prancis atas pembelaan penerbitan karikatur tersebut dan tanggapan Macron.

"Kami mengutuk publikasi kartun satir yang menggambarkan Nabi Muhammad," kata Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Al-Safadi.

Pemimpin Pakistan Imran Khan, otoritas agama tertinggi Mesir Imam Besar Al-Azhar, dan kementerian luar negeri Iran juga mengkritik Prancis.

Namun pemimpin Eropa lainnya mendukung Presiden Macron, termasuk diantaranya Kanselir Jerman Angela Merkel yang lewat jubirnya mengutuk pernyataan Erdogan.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan Berlin berdiri sebagai solidaritas dengan Paris.

Para pemimpin Yunani dan Austria juga telah menyatakan dukungannya untuk Macron.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM) 



Name

Berita,11073,HUMOR,5,Internasional,157,Kesehatan,4,Nasional,10952,News,67,OPINI,76,Seleb,2,Tekno,1,
ltr
item
IndonesiaKiniNews.com: Presiden Turki Erdogan Dalam Masalah Besar Uni Eropa Sudah Rapat, Imbas Seruan Boikot Produk Prancis
Presiden Turki Erdogan Dalam Masalah Besar Uni Eropa Sudah Rapat, Imbas Seruan Boikot Produk Prancis
https://1.bp.blogspot.com/-OeAc3s-kXic/X5-Wv5YddFI/AAAAAAAADU4/Yj3Dk7zBKUMQ3Lg09NjS9zJvH4UoGsBMgCLcBGAsYHQ/w640-h360/3ecbb72f167fcdef22c5a9b9614f54ab.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-OeAc3s-kXic/X5-Wv5YddFI/AAAAAAAADU4/Yj3Dk7zBKUMQ3Lg09NjS9zJvH4UoGsBMgCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h360/3ecbb72f167fcdef22c5a9b9614f54ab.jpeg
IndonesiaKiniNews.com
https://www.indonesiakininews.com/2020/11/presiden-turki-erdogan-dalam-masalah.html
https://www.indonesiakininews.com/
https://www.indonesiakininews.com/
https://www.indonesiakininews.com/2020/11/presiden-turki-erdogan-dalam-masalah.html
true
1493314966655697463
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy