IndonesiaKiniNews.com - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Tengku Zulkarnain mengatakan bahwa akhir-...
IndonesiaKiniNews.com - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Tengku Zulkarnain mengatakan bahwa akhir-akhir ini dirinya mendengar dua istilah baru mengenai ulama.
Melalui akun twitternya @ustadtengkuzul dirinya mengatakan:
"Sekarang ini beredar ungkapan, katanya ulama terbagi dua:
1. Ulama Adem
2. Ulama Radikal
Yang adem adalah mereka yang pro-penguasa.
Yang radikal adalah mereka yang suka kritik penguasa.
Ada yang bisa carikan dasar dalil hadisnya...? Monggo..."
Sekarang Ini Beredar Ungkapan, Katanya Ulama Terbagi Dua:— tengkuzulkarnain (@ustadtengkuzul) April 22, 2018
1. ULAMA Adem
2. Ulama Radikal
Yg Adem adalah Mereka yg Pro-Penguasa.
Yg Radikal adalah Mereka yg Suka Kritik Penguasa.
Ada yg Bisa Carikan Dasar Dalil Hadisnya...?
Monggo...
Salah seorang netizen dengan akun @avatarcs99 mengatakan:
"Yang benar ulama terbagi 2:
1. Ulama Moderat
2. Ulama Radikal
Yang moderat selalu menyerukan kebaikan kesejukan dan jaga hati dari kemunafikan & kejahatan.
Yang Radikal itu selalu menyerukan ujaran kebencian,sebarkan hoax,cth PKI terus pasang tampang tak berdosa.
Ada yang bisa sebutkan siapa?"
Yg benar Ulama terbagi 2— Avatar🌞CS✌99🇲🇨 (@avatarcs99) April 22, 2018
1. Ulama Moderat
2. Ulama Radikal
Yg moderat selalu menyerukan kebaikan kesejukan dan jaga hati dari kemunafikan & kejahatan
Yg Radikal itu sll menyerukan ujaran kebencian,sebarkan hoax,cth PKI terus pasang tampang Tak berdosa
Ada yg bisa sebutkan siapa?
Ustaz Tengku Zulkarnain menjawab,"Yai Hasyim Muzadi sebelum wafat, saat sakit sangat berpesan utk WASPADA terhadap PKI, Komunis dan Atheis kepada orang2 yg membezuk beliau...."
Dikabarkan sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melarang para ustaz dan ulama berceramah dengan sisipan agenda politik praktis di tempat ibadah.
Menurutnya, peringatan itu diberikan lantaran dewasa ini tempat ibadah rentan dijadikan ruang politik yang strategis selama masa kampanye pemilu.
Dirinya juga mengungkapkan jika saat ini tempat ibadah kerap disalahgunakan dan dijadikan ajang kampanye politik terselubung serta penyebaran provokasi dan kebencian melalui ceramah keagamaan yang kerap memicu perpecahan masyarakat.
sumber: tribunnews.com
