$type=slider$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=5$show=home

Daftar 7 Kejanggalan Versi Sopir Ambul*ns Pembawa Jen*z*h Brigadir J, Tak Tahu Jika Jemput Jen*z*h

INDONESIAKININEWS.COM -  Sopir ambulans bernama Ahmad dihadirkan dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir J. Ahmad merupakan sopir ambula...



INDONESIAKININEWS.COM - Sopir ambulans bernama Ahmad dihadirkan dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir J.

Ahmad merupakan sopir ambulans yang membawa jenazah Brigadir J dari TKP ke rumah sakti.

Ahmadpun mengungkap sejumlah kejanggalan saat membawa jenazah Brigadir J menggunakan mobil ambulansnya tersebut.

Seperti diketahui, sopir ambulans bernama Ahmad hadir untuk memberikan keterangannya dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir J.

Iapun mengungkap sejumlah kesaksikan yang disebut cukup kontroversial.

Ahmad, sopir ambulans pembawa jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J memberikan kesaksian di persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (7/11/2022).

Kesaksian Ahmad menjadi penting karena ia mengetahui detik-detik Brigadir J dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Kepada Majelis Hakim dan anggotanya, Ahmad mengatakan ada beberapa peristiwa yang membuatnya curiga.

Adapun beberapa peritiwa itu dirangkum Tribunnews.com melalui tayangan Kompas Tv.

Tidak Tahu Jemput Jenazah

Malam pada waktu kejadian tanggal 8 Juli 2022, Ahmad mengatakan bahwa dirinya mendapatkan telepon dari Sofyan Kasman salah satu owner PT Bintang Medika untuk menjemput seseorang.

Permintaan tersebut, kata Ahmad, datang dari orang yang tak dikenal.

Pukul 19.13 WIB, Ahmad lantas berangkat menuju lokasi permintaan layanan ambulans, yakni di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Tiba di lokasi itu, Ahmad merasa curiga.

"Saya dapat telpon itu jam tujuh malam, dari informasi Sofyan Kasman salah satu owner PT BIntang Medika."

"Ia (Sofyan Kasman) hanya mengabarkan ini ada yang membutuhkan layanan ambulans."

"Ada telpon dari website, meminta bantuan ambulans, permintaan dari orang tak dikenal," jelas Ahmad.

Pada saat penjemputan Brigadir J, Ahmad mengaku bahwa ia tidak tahu jika ia menjemput jenazah.

Ahmad mengaku biasanya ia hanya diminta menjemput orang sakit.

"(Saya biasanya menjemput) orang sakit, (jarang disuruh menjemput orang meninggal) kecuali dari kepolisian, atau Satlantas Jakarta Timur," jelas Ahmad.

Curiga di Duren Tiga

Ketika diberi tahu ada pekerjalanan layanan ambulans, Ahmad tidak merasa curiga meski permintaan datang dari oarng yang tak dikenal.

hal itu lantaran ia biasa mendapatkan permintaan layanan penjemputan orang sakit memang dari orang yang tak dikenal.

"Saya (pada saat itu) tidak curiga, karena biasa, atau lazim seperti itu," kata Ahmad.

Waktu sampai ke rumah permintaan layanan di Duren Tiga, Ahmad baru merasa curiga.

"Waktu sampai ke rumah, saya curiga dan menginsting kalau ada suatu kejadian kematian," sambung Ahmad.

Hingga akhirnya ia menemui ada seseorang yang tergeletak tak bernyawa yang tidak lain adalah Brigadir J.

Memasukkan Jenazah ke Kantong, Dibantu Orang

Ia kemudian memasukkan jenazah Brigadir J ke kantong jenazah yang ia bawa.

"Karena kakinya terlalu panjang dan nggak muat di kantong jenazah saya, kakinya saya lempit sedikit kakinya biar bisa masuk kantong jenazah, lalu saya resleting."

"Saya lalu ambil tandu yang bisa dibelah dua, jadi saya masukkan dari kanan dan kiri (tubuh jenazah) pas mau angkat saya minta tolong sama anggota yang ada di lokasi," jelas Ahmad.

Karena datang hanya sendirian, Ahmad lantas meminta bantuan kepada bapak-bapak yang ada di lokasi kejadian.

Ahmad tidak yakin berapa orang yang membantunya mengangkat jenazah.

"Dari lokasi korban yang tergeletak, saya mengangkat dibantu tiga sampai empat orang bapak-bapak yang ada di lokasi itu untuk memasukan (Brigadir J) ke kantong jenazah," lanjut Ahmad.

Tak Boleh Nyalakan Lampu Ambulance

Ketika jenazah telah dimasukkan ke ambulans, Ahmad lantas bersiap mengantarkannya ke RS Polri Kramat Jati.

Pada saat Ahmad akan menyalakan lampu atau sirine mobil ambulans, Ahmad ditahan oleh seseorang.

Orang tersebut meminta Ahmad untuk menyalakan lampu ketika keluar dari kompleks.

"Lalu (ketika jenazah) diangkat ke mobil, pas saya mau nyalain lampu rotator atau lampu ambulans seseorang mengatakan kepada Ahmad 'tahan dulu mas, nanti aja diluar, nanti ikuti arahannya saja, nanti di kawal," jelas Ahmad.

Ahamad pun menuruti perintah orang tersebut dan lantas membawa jenazah menuju keluar kompleks.

Dikawal Anggota Provos

Belum juga ambulance keluar komplek, sebuah mobil Pajero Provos telah menunggu.

Seseorang yang diketahui anggota Provos itu lantas meminta Ahmad untuk mengikuti arahannya.

Salah seorang aggota Provos itu juga ikut mobil ambulans bersama Ahmad.

"Pas saya keluar komplek ada mobil provos, saya dibelakangnya, llalu satu anggota provos turun, saya lalu ditemani anggota provos di dalam mobil ambulans," ujar Ahmad.

Jenazah Dibawa ke ICU bukan Ruang Jenazah

Hal lain yang menjadi kecurigaan Ahmad adalah jenazah Brigadir J tidak langsung dibawa ke ruang forensik atau ke ruang jenazah.

Ketika tiba di RS Polri Kramat Jati, anggota Provos itu justru meminta Ahmad untuk menurunkan jenazah Brigadir J di ICU.

"Pas masuk RS tidak langsung ke forensik tapi ke ICU, biasanya saya langsung di ruang jenazah."

"Namun ada kejanggalan di sana, umumnya jenazah langsung dibawa ke ruang jenazah, namun jenazah ternyata langsung di bawa ke ruang ICU," jelas Ahmad.

Jenazah Keluar ICU Subuh

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ahmad mengaku tidak diizinkan pulang.

Ia diminta oleh anggota Provos itu untuk menunggu di area RS Kramat Jati.

Setelah jenazah keluar, Ahmad merasa bingung karena jenazah dimasukan di mobil ambulans lain.

"Saya menunggu dan makan di samping Masjid sampai mau Subuh."

"Baru itu keluar jenazahnya dan dimasukkan ke ambulance tapi tidak ambulan saya," jelas Ahmad.

Ahmad pun mengaku tidak mendapatkan ongkos jasa. 

"Jasanya bahkan tidak dibayar, yang hanya dibayar adalah jasa sewa dan cuci ambulans," terang Ahmad.

Detak nadi Brigadir J terus dicek.

Detak nadi jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat dicek berulang kali, sebelum akhirnya dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati.

Hal itu diungkapkan Ahmad Syahrul Ramadhan, sopir ambulans yang membawa jenazah Brigadir Yosua, dalam sidang lanjutan untuk terdakwa Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka Ricky Rizal, dan Kuwat Maruf.

Syahrul yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) sebagai saksi, awalnya bercerita kronologi dirinya diminta datang ke rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.

"Saat tiba di lokasi, saya ikuti police line. Lalu, saya terkejut di samping tangga ada jenazah," kata Syahrul dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (7/11/2022).

Saat itu, Syahrul melihat jenazah Brigadir Yosua dalam kondisi terlentang dan masih mengenakan baju putih dan masker.

Setelah itu, dirinya langsung mengecek nadi di tangan kiri Brigadir Yosua, menggunakan sarung tangan karet. Kata dia, denyut nadi sudah tidak ada.

"Saya disuruh salah satu anggota untuk cek nadinya. Saya cek sudah tidak ada nadinya," ucap Syahrul.

Dari hasil pengecekan nadi itu, dirinya langsung memberikan informasi kepada beberapa petugas dari Propam Polri yang sudah ada di lokasi.

Namun, Syahrul tidak memerinci identitas orang-orang yang ada saat itu.

Para anggota Propam Polri itu kembali meminta Syahrul mengecek kondisi Yosua, guna memastikan masih hidup atau tidaknya Yosua.

"Saya bilang ke bapak-bapak lokasi 'izin pak sudah tidak ada', 'pasti mas?' 'Pasti pak'," ungkap Syahrul menirukan percakapan kala itu.

Tapi, beberapa anggota itu, kata dia, kembali mengecek nadi untuk memastikan kondisi Yosua.

"Lalu dicek kembali (kondisi nadi Yosua oleh) bapak-bapak di lokasi," ucap Syahrul.

Setelah memastikan Brigadir Yosua sudah meninggal dengan banyaknya ceceran darah, Syahrul diperintahkan memasukkan jasad Yosua ke kantong jenazah.

Syahrul mengaku, saat ingin memasukkan jenazah Yosua, dirinya dibantu oleh beberapa anggota Provos yang ada di lokasi, untuk dibawa ke RS Polri, Kramat Jati.

Dibawa ke IGD

Ahmad Syahrul Ramadhan, sopir ambulans yang membawa jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (7/11/2022).

Syahrul merupakan sopir ambulans dari PT Bintang Medika yang diminta mengantarkan jenazah Yosua dari rumah dinas Ferdy Sambo, ke Rumah Sakit (RS) Polri, Kramat Jati.

Dalam sidang tersebut, Syahrul menyatakan, setibanya di RS Polri Kramat Jati, jenazah Yosua tak langsung dibawa ke ruang jenazah, tapi diarahkan menuju ruang instalasi gawat darurat (IGD).

Perintah tersebut, kata Syahrul, datang dari seorang petugas yang menemui dirinya selama di ambulans menuju RS Polri.

"Saat itu enggak langsung dibawa ke kamar jenazah, tapi dibawa ke IGD."

"Saya tanya ke yang temani saya, 'pak izin, kenapa dibawa ke IGD dulu? Biasanya kalau saya langsung ke kamar jenazah, ke forensik.'"

"Dia bilang, 'wah saya enggak tahu mas, saya ikutin perintah aja, saya nggak ngerti'," tutur Syahrul dalam persidangan atas terdakwa Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka Ricky Rizal, dan Kuwat Maruf.

Setelah tiba di ruang IGD, Syahrul mengaku terkejut, karena sudah banyak orang di dalam ruangan tersebut.

Tak lama berselang, Syahrul mengaku dihampiri oleh seorang petugas di RS Polri yang tidak diketahui namanya, untuk menanyakan jumlah korban yang dibawa.

"Lalu saya ke IGD, sampai IGD sudah ramai, saya buka pintu, datang dah tuh petugas RS Polri, korbannya berapa orang?"

"Waduh saya bingung, hanya satu, terus dilihat 'waduh kok udah kantong jenazah, emang ada orang? Ditanya korban berapa? Satu," beber Syahrul seraya menirukan percakapan.

Baru setelah itu, Syahrul diminta langsung membawa jenazah Yosua ke ruang jenazah forensik untuk keperluan pemeriksaan.

S: tribunnews


Name

Berita,23275,H,151,HUMOR,7,Internasional,946,Kesehatan,29,Nasional,22349,News,1358,OPINI,81,Seleb,3,Tekno,1,
ltr
item
IndonesiaKiniNews.com: Daftar 7 Kejanggalan Versi Sopir Ambul*ns Pembawa Jen*z*h Brigadir J, Tak Tahu Jika Jemput Jen*z*h
Daftar 7 Kejanggalan Versi Sopir Ambul*ns Pembawa Jen*z*h Brigadir J, Tak Tahu Jika Jemput Jen*z*h
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEMmFZoMf3PwNLqkBkgUKaen6b0j39ez0ruSVXfzvb45LAcUhKzrOuTodIKX72UdN7p1t3S7FrNgD34EfTJmKew6e3JiS6pmz38ObTGd2K-78KBMczqYXDMO1HV3-JbnIOtL_iF1p3IiwRGGfO3DTY26Nm8byrYbO-BVEPlVT2UFYIOfVibGSn_6QPCw/w640-h362/IMG_20221107_194100.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEMmFZoMf3PwNLqkBkgUKaen6b0j39ez0ruSVXfzvb45LAcUhKzrOuTodIKX72UdN7p1t3S7FrNgD34EfTJmKew6e3JiS6pmz38ObTGd2K-78KBMczqYXDMO1HV3-JbnIOtL_iF1p3IiwRGGfO3DTY26Nm8byrYbO-BVEPlVT2UFYIOfVibGSn_6QPCw/s72-w640-c-h362/IMG_20221107_194100.jpg
IndonesiaKiniNews.com
https://www.indonesiakininews.com/2022/11/daftar-7-kejanggalan-versi-sopir.html
https://www.indonesiakininews.com/
https://www.indonesiakininews.com/
https://www.indonesiakininews.com/2022/11/daftar-7-kejanggalan-versi-sopir.html
true
1493314966655697463
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy